SAUDI ARABIA

suaraumumaceh.com-Banda Aceh:Diringkas dari kitab Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Rasulullah ﷺ lahir dari keluarga terhormat, Bani Hasyim, di Mekkah pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal. Sebagian ulama menyebutkan bahwa tanggal tersebut bertepatan dengan 22 April 571 Masehi. Kelahiran beliau disambut dengan suka cita oleh keluarga besar dan masyarakat sekitarnya, sebagai hadirnya seorang anak dari nasab yang mulia.

Menurut penuturan Ibnu Sa‘d, Aminah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا menuturkan bahwa setelah bayi Muhammad ﷺ lahir, ia melihat cahaya keluar darinya dan menyinari istana-istana Syam. Abdul Muthalib, kakek beliau, kemudian membawa cucunya ke hadapan Ka‘bah sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan. Di sanalah ia menamai cucunya “Muhammad”, sebuah nama yang kala itu belum dikenal luas di tengah masyarakat Arab.

Menyusu kepada Ibu Susuan

Pada masa itu, menyusukan bayi kepada ibu susuan di luar keluarga merupakan tradisi yang umum dilakukan oleh masyarakat Mekkah. Tujuannya adalah agar anak tumbuh dengan fisik yang kuat, bahasa Arab yang fasih, dan karakter yang terjaga. Para ibu susuan biasanya dipilih dari kalangan yang dikenal baik makanan, kehidupan, dan lingkungannya.

Ibu susuan pertama yang menyusui Muhammad ﷺ setelah ibunda beliau adalah Tsuwaibah, kemudian Halimah binti Abu Dzu’aib yang lebih dikenal dengan Halimah as-Sa‘diyyah dari kabilah Bani Sa‘d. Halimah menuturkan bahwa sejak Muhammad ﷺ berada dalam asuhannya, keberkahan mulai menyertai dirinya dan keluarganya.

Diriwayatkan bahwa ketika Aminah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا menawarkan para ibu susuan untuk menyusui putranya, banyak di antara mereka yang menolak karena mengetahui bahwa Muhammad ﷺ adalah seorang yatim. Mereka berharap mendapatkan imbalan yang besar, sementara keluarga Muhammad ﷺ tidak memiliki banyak harta. Halimah yang saat itu belum mendapatkan bayi susuan akhirnya mengambil Muhammad ﷺ dan membawanya pulang.

Sejak itulah berbagai keberkahan tampak nyata. Di tengah musim paceklik yang melanda Mekkah dan sekitarnya, unta Halimah yang sebelumnya tidak mengeluarkan susu tiba-tiba menjadi banyak susunya. Keledai yang ia tunggangi pun terlihat lebih kuat dan sehat dibandingkan milik orang lain. Halimah dan keluarganya meyakini bahwa semua itu adalah keberkahan dari kehadiran Muhammad ﷺ di tengah mereka.

Peristiwa Pembelahan Dada

Ketika Muhammad ﷺ masih berada dalam asuhan Halimah, terjadi peristiwa pembelahan dada oleh dua malaikat. Saat itu beliau masih kanak-kanak. Halimah merasa sangat khawatir dan takut akan keselamatan anak susunya. Karena itu, ia memutuskan untuk mengembalikan Muhammad ﷺ kepada ibundanya, Aminah.

Wafatnya Ibunda Tercinta

Baru saja beberapa waktu kembali berada dalam asuhan ibundanya, takdir kembali menghadirkan ujian. Aminah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا wafat dalam perjalanan pulang dari Yatsrib (yang kini dikenal sebagai Madinah) setelah berziarah ke makam suaminya. Muhammad ﷺ dan pembantu mereka, Ummu Aiman رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, turut serta dalam perjalanan tersebut.

Mereka menempuh perjalanan yang panjang. Namun di tengah perjalanan, Aminah wafat di sebuah desa bernama Abwa’, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Muhammad ﷺ kembali merasakan kehilangan sosok yang paling ia cintai.

Diasuh oleh Kakeknya

Setelah wafatnya Aminah, pengasuhan Muhammad ﷺ beralih kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Ia adalah sosok yang sangat dihormati di Mekkah dan dikenal sebagai penjaga Ka‘bah. Abdul Muthalib begitu menyayangi cucunya, bahkan sering mendahulukan kepentingan Muhammad ﷺ daripada dirinya sendiri.

Dalam riwayat Ibnu Hisyam disebutkan bahwa Abdul Muthalib memiliki sebuah dipan khusus di dekat Ka‘bah yang tidak seorang pun berani mendudukinya sebagai bentuk penghormatan. Suatu hari, Muhammad ﷺ kecil duduk di atas dipan tersebut. Paman-pamannya berusaha melarangnya, namun Abdul Muthalib berkata, “Biarkanlah anakku ini. Demi Allah, sesungguhnya ia akan memiliki kedudukan yang agung.”

Tak lama kemudian, Abdul Muthalib pun wafat ketika Muhammad ﷺ berusia sekitar delapan tahun lebih dua bulan. Pengasuhan beliau kemudian dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib, sesuai dengan wasiat sang kakek.

Melalui rangkaian peristiwa ini, masa kecil Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan kehilangan, ujian, dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Semua itu menjadi bagian dari takdir Ilahi yang mempersiapkan beliau untuk memikul amanah besar sebagai pembawa risalah bagi seluruh umat manusia. Semua terjadi dengan hikmah dan kehendak Allah ﷻ. Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *